Tiga Pagi
Damainya malam gak membuat tidur saya lebih dalam. Dinginnya cuaca saat itu gak lantas membuat saya ingin meringkus diri lebih erat dalam pelukan abang yang nyenyak tertidur di sebelah saya. Pukul tiga pagi. Satelah berperang mati-matian *lebay* melawan yang namanya ngantuk, saya yang merasa ada sebuah dorongan kuat di kandung kemih sejak dua menit lalu akhirnya memutuskan mengsubstitusi ritual tidur malam itu dengan ritual lain: buang air kecil lalu sholat malam.
Ngeliat ada testpack nganggur di kamar mandi rasanya jadi kepengen nyoba test, mumpung air seninya masih fresh! Kan katanya, testpack itu dilakukan dengan menggunakan urine pertama di pagi hari, dimana saat itu kandungan hCG dalam urine adalah yang terbanyak di banding dengan kandungan hCG pada urine di siang dan sore hari. Sambil ngantuk-ngantuk saya mulai nyelupin si testpack ke urine. Saya tunggu beberapa detik daaaaan taraaaaaa…! Muncul dua garis merah yang berarti tes kali ini hasilnya positif! *setelah sekian lama nyoba tes hasilnya negatif mulu.hehe* Saya pun tiba-tiba gemeteran, dagdigdug gak karuan rasanya. Saya bangkit, dan buru-buru menuju kamar tidur.
“Ayang, ayang…” dengan tidak bijaksana saya guncang-guncangin badan abang yang masih tertidur pulas. Lalu, “Hoammmmm.Zzzzzz.!@#$” abang bangun tidur sambil terkaget-kaget dan bergumam-gumam. Katanya sih dikiranya saya takut kecoa di kamar mandi.
“Apa sayang?” Kesadaran abang mulai kembali.
“Ayang liat ini deh” saya nyodorin alat tespack.
“Hah? Apa ini? Gak keliatan. Kacamata abang mana yah?” Saking riweuhnya saya hampir lupa kalo abang belum sempet make kacamata. Kami pun sibuk nyari kacamata.
Setelah kacamata nyangkut di wajah si orang ganteng, saya bilang, “coba liat ini.” Saya sodorin lagi testpacknya. Setelah tertegun lama, tanpa diduga-duga abang bilang, “hmmm, ini maksudnya apa sayang?” Kriiiik kriiiik kriiiiik gubrakzzzzzzz!@#$$^&. Aihhhhhhh. Lalu saya kasiin panduan yang ada dibungkusnya. Dan tiba-tiba abang memeluk saya kenceeeeng banget sambil bilang, “alhamdulillah sayaaaaang”. Kami pun berpelukan penuh haru setelah sebelumnya terjadi sedikit adegan dongdong -_-. Kamipun menghabiskan malam dengan shalat tahajud berjamaah.
Sehabis sholat subuh kami tidur-tiduran di kasur. Saya dan abang diam seribu bahasa. Masing-masing dari kami begitu menikmati sensasi yang melanda sejak pukul tiga tadi. “Sayang, telpon mama yuuuk” kata saya. Kamipun dengan kikuknya mulai menelepon mama di Subang dan di Sumatra. Tampaknya euforia mulai melanda semua orang yang kami telponin subuh-subuh.
Hari itu saya beraktivitas dengan bahagia, abang juga pergi ke kantor dengan wajah sumringah. Saat sore hari menjelang, abang pulang membawa 3testpack, mulai dari yang murah sampe yang mahal. “De, ntar coba tes lagi yaaah. Suatu data kan baru dibilang acceptable kalo dites triplo.” Errrrrrr saya geleng-geleng kepala. Suami saya taat prosedurrrrrrr (0.0)
Saya lalu ngetes beberapa kali dan hasilnya selalu positif. Kami pun memutuskan untuk ke RS dan konsul dengan dokter Spog. And for the first time, segumpal daging muncul di layar USG dan dokter pun resmi menyatakan dede bayi mulai berkembang di rahim saya. Alhamdulillah. Nikmat Allah tiada tara :):)
Come to mommy and daddy, Nak!






